Bagaimana Islam Mengatur Hak Mertua

Bagaimana Islam Mengatur Hak Mertua

Di dalam kehidupan berumah tangga tentunya Anda pasti sering mendengar mertua dan menantu itu tidak akur. Banyak fenomena mertua mencampuri urusan rumah tangga anaknya sehingga tak heran banyak kasus perceraian akibat campur tangan mertua. Sebenarnya seberapakah pentingnya mertua utamanya ibu dari suami haknya di dalam Islam? Dan bagaimanakah sebaiknya menantu dan mertua itu hidup rukun?

Hak dan Hal yang Dimiliki serta Dilakukan oleh Mertua

Di dalam agama Islam, mertua itu adalah sama halnya dengan orang tua Anda. Meskipun haknya tak sama dengan orang tua kandung terlebih lagi jika seorang istri. Jika Anda sudah menjadi seorang istri, orang tua kandung sudahlah bukan prioritas utama lagi melainkan yang lebih penting adalah suami. Lalu karena hal semacam itulah sering kali terjadi percekcokan antara menantu dan mertua karena merasa atau berhak atas suami. Namun, di dalam Islam sendiri juga mengatur hak-hak tentang mertua, penjelasannya seperti di bawah ini.

  1. Mertua masih berhak memiliki atas anaknya (suami)

Di dalam Islam, anak laki-laki yang sudah menikah itu masih menjadi anak dari ibu bapaknya. Ini dalam artian masih menjadi milik dari orang tua kandungnya. Berbeda dengan anak perempuan, apabila sudah diucapkan ijab Kabul, maka anak perempuan tersebut sudah resmi milik dari suami dan orang tua kandungnya sudah tidak berhak lagi atas dirinya. Oleh sebab itu, seorang istri harus patuh terhadap suaminya. Tugasnya sekarang sudah bukan menjadi anak yang berbakti kepada orang tuanya tetapi berbakti kepada suami. Memang ini dirasa tidak adil tetapi hukum Islam sudah seperti itu, banyak pepatah yang mengatakan “aku (istri) ini milik suamiku tetapi suamiku milik ibunya”. Meskipun sudah menikah tetapi suami masih dimiliki oleh ibunya dan sang ibu pun berhak atas putranya tersebut.

  1. Mertua harus menghormati keputusan anaknya

Meskipun ibu kandung suami masih berhak atas anaknya, tetapi ada batasan tertentu yang tidak semua kehendak ibunya diiyakan oleh sang anak. Jika begitu, maka rumah tangga anaknya akan selalu mengalami percecokan. Sebagai mertua yang baik hendaknya menghormati keputusan anaknya. Jika sang anak sudah berumah tangga maka tanggung jawab atas istri dan anak-anaknya ada di pundaknya dan sang ibu pun tidak boleh menghalang-halangi untuk menunaikan tanggung jawab sebagai suami. Jika dihalang-halangi maka sang ibu pun akan berdosa. Jadi sebagai orang tua harus senantiasa menghormati keputusan anaknya. Orang tua hanya bisa memberikan arahan saja karena yang menjalani hubungan adalah anak dan menantunya.

  1. Tidak membeda-bedakan antara anak kandung dan menantu

Yang harus dilakukan oleh mertua adalah tidak membeda-bedakan antara anak kandung dan menantu. Jangan sampai hal itu terjadi karena bisa menimbulkan masalah, menantu itu sama halnya dengan anak kandung karena sudah menjadi tanggung jawab suami.

Jika ingin hubungan antara mertua dan menantu akur, maka ketiga hal di atas harus dilakukan. Jangan sampai ada yang tidak dimengerti oleh mertua. Jangan mentang-mentang suami itu masih dimiliki oleh ibu kandungnya maka sang ibu selalu menyuruh anak lelakinya untuk ini itu. Jika demikian maka mertua tidak menghargai perasaan anak dan menantunya. Meskipun mertua masih berhak atas anak lelakinya tetapi harus bisa melihat batasannya, jangan menyalah gunakan hak untuk menyakiti perasaan orang lain. Jika ingin dihormati sebagai orang tua yang mengayomi, maka mulailah dengan mengasihi dan menghormati anak-anaknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *